topbella

Minggu, 06 Maret 2016

Kopi dan Gulali



 “Wanita memang terkadang seperti itu, susah ditebak. Nanti juga baik sendiri,” ucapnya dengan logat Batak yang masih kental, sambil meniup uap kopi yang menguap dicangkirnya.
“Apa mungkin jenuh sudah mulai menyelimuti hatinya?” perasaan itu tiba-tiba menyelinap menusuk ke dalam relung hatiku. Aku memandang ke arah taman, rumput-rumput hijau, anak-anak kecil bermain perosotan, ayunan, berlarian kesana kemari. Gerombolan remaja sedang asyik bercanda dan berfoto. Wajah mereka berbinar. Di sini ramai, namun entah mengapa semua terasa kosong, hampa.
“Sudahlah, tak usah terlalu kau pikirkan. Mungkin dia sibuk. Kau tau kan anak kuliahan, tugasnya banyak. Kau harus mengertilah, nanti dia kalau sudah tak sibuk juga akan menghubungimu lagi seperti biasa,” ia menepuk pundakku berusaha untuk menepiskan pikiranku yang tidak karuan.
“Semoga saja ucapan kamu itu benar, Maruli,” aku tersenyum getir.
Senja perlahan semakin tergelincir. Sinarnya merah bercampur warna jingga keemasan. Aku dan Maruli segera beranjak meninggalkan bangku taman dan coffe cup ku yang sisa setengah isinya.
Langit seakan menyembunyikan bintang malam ini. Aku menutup jendela kamarku dan kusibakkan gordennya. Entah mengapa udara malam ini terasa sangat dingin. Hingga dinginnya menyusup kecelah-celah pori-pori kulitku, menusuk hingga ke tulangku. Ditemani bantal dan guling seadanya, aku hanya bisa menatap langit-langit kamar ku yang terasa semakin kosong ; sekosong hatiku.
Sepi begitu menggigit malam ini. Sesekali kulihat ponselku, berharap ada pesan singkat atau chat yang masuk. Berkali-kali aku merubah posisi tidurku. Namun lelap tak pernah menyambutku.
Ku beranikan diri, ku ambil handphone yang tergeletak di sampingku. Aku mulai merangkai kata-kata. Ku kirimkan pesan singkat itu padanya. Dengan degup jantung yang tidak karuan, gelisah yang perlahan menyelinap di rongga dadaku. Aku menunggu. Berharap ia membaca pesan singkatku, berharap ia membalasnya, memberi kabar bagaimana keadaannya. Apa yang terjadi sehingga ia tidak mengabariku 3 hari ini. Apa dia sakit atau sedang sibuk. Semua pertanyaan itu mengambang dalam otakku. Seakan meraung meminta jawaban dari dia.
Lima menit, sepuluh menit, tiga puluh menit, satu jam, dua jam. Detak jarum jam semakin membuat detak jantungku tidak beraturan. Kuputuskan untuk menelponnya. Namun, nihil. Nomernya tidak aktif.

Zulfa
            Jemariku menari bersama imajinasi dan pemikiran di atas keyboard laptopku. Sesekali kupandangi langit malam ini yang terlihat muru tanpa adanya bintang. Hanya kerlap kerlip lampu kota yang menerangi malam ini.
            Dering handphoneku seketika membuyarkan lamunanku. Tanpa membaca isi pesan singkat itu aku langsung mematikan handphoneku. Sudah 3 hari aku tidak memberinya kabar. Sudah 3 hari aku tidak membalas sms atau mengangkat telponnya. Aku tau mungkin dia khawatir, cemas, gelisah ketika aku bersikap seperti ini. Tapi sungguh, aku masih belum sanggup bertemu dengannya. Aku belum siap dengan semua kenyataan ini.
            Aku beranjak dari balkon kamarku. Seketika otakku sudah tidak mampu lagi berpikir. Sugguh, aku begitu tersiksa dengan keadaan ini. Aku tidak tau harus berbuat apa. Aku seperti anak kecil yang seakan lari dari kenyataan. Tapi aku hanya butuh waktu sendiri, sedikit waktu untuk menenangkan hatiku.

Damar
Aku benci perasaan ini. Perasaan yang perlahan menggelayutiku. Perasaan yang membuatku berantakan. Dadaku mulai sesak. Aku seakan tak kuasa menahan rindu ini. Rindu sosok dia yang dulu. Dia yang selalu menghubungiku. Dia yang selalu memberi kabar. Aku sudah terbiasa dengan semua itu. Hingga begitu sulitnya aku bernafas ketika sehari saja aku tak mendengar kabarnya.
Semua social medianya dan teman-temannya sudah kuhubungi. Dan semuanya tidak ada respon. Ia seakan menghilang ke negeri antah barantah. Aku tidak menuntut banyak, aku hanya ingin tau kabarnya. Selama ini aku selalu mengerti kesibukannya. Kuliah dan pekerjaannya membuat ia bahkan harus mencuri-curi waktu disela-sela kesibukannya itu untuk bertemu denganku. Aku tidak pernah mengeluh dengan itu, meskipun kami tidak seperti pasangan lain yang selalu bisa bertemu kapan pun mereka mau.
Di luar hujan dengan derasnya menghujam bumi, riaknya luruh tak tertahan. Aku termenung memandang wajah cantiknya melalui benda dua dimensi bernama foto. Mendengar suara lembutnya dengan berulang kali memutar voicenotenya. Menenun angan mengingat saat-saat aku bersamanya. Rindu ini sudah mulai meraung.

Zulfa
            Kupandangi mawar yang dulunya putih sekarang sudah berubah menjadi hitam karena sudah layu dan mengering. Mawar ini masih rapi melekat di buketnya dengan pita pink yang melilit di buketnya. Ku kumpulkan kelopak-kelopak mawar yang sudah mulai rontok, tidak kubiarkan satupun terbuang. Mawar ini hadiah pertama yang ia berikan kepadaku. Selama ini ia memang bukan lelaki yang romantis, makanya aku begitu terkejut ketika ia memberikut satu buket mawar putih lengkap dengan hiasan pita pink kesukaanku.
            Petama kali aku bertemu dengannya ketika mobilku tidak sengaja menabrak motornya. Kala itu aku sedang sakit kepala dan tidak sadar aku menabrak motornya yang terparkir di pinggir jalan. Sejak pertemuan yang tak terduga itulah aku mengenalnya. Tapi aku tidak pernah menyangka jika ia tiba-tiba memenuhi sudut-sudut terpencil di otakku, hingga memenuhi relung-relung hatiku. Semua terjadi begitu cepat, tanpa teori dan banyak basa-basi.

Damar
Waktu sudah menunjukkan sepertiga malam. Tak banyak membuang waktu lagi, aku langsung mengambil air wudhu. Setelah lama bercengkrama dengan Tuhan, mencurahkan segala kepenatan didada ini, aku kembali menenun angan.
Adzan berkumandang, membangunkanku dari tidur lelapku. Baru sadar, ternyata aku tertidur di atas sajadahku. Bergegas ku bersihkan diriku lalu ku ambil air wudhu. Bait-bait doa ku panjatkan. Tak terlupa namanya ku rapal dalam setiap doa dan sujudku.
Aku terperanjat ketika mendengar handphoneku berdering. Satu pesan singkat masuk. Ada letupan di hatiku yang tak bisa kujelaskan ketika aku membacanya. Dia mengajakku bertemu siang ini.

Zulfa
            Hari ini aku memutuskan untuk bertemu dengannya. Aku sadar, aku tidak bisa membiarkan semuanya berlarut-larut seperti ini. Aku tidak bisa membiarkan dia terus digeluti rasa khawatir dan cemas. Aku harus memberi kabar padanya. Aku juga sangat ingin melihat matanya yang indah, aku ingin merangkul tubuhnya yang atletis, aku ingin bersandar di pundaknya. Aku sudah terlalu lelah.

Damar
Jemari lentiknya menari bersama imajinasi di atas keyboard laptopnya. Sesekali ia menyeruput coffe favoritenya. Di sebelah cangkirnya ada gulali yang tak pernah ketinggalan dibawanya. Gulali selalu menjadi temannya ketika minum kopi. Ia tampak cantik dengan setelan baju merah marunnya, ditambah lilitan pashmina yang selalu ia kenakan membuat hatiku selalu teduh ketika memandangi wajah arabiannya itu.
Aku terperanjat ketika seseorang tak sengaja menabrakku yang sedari tadi berdiri di balik pintu kafe. Aku segera menghampirinya. Lengkungan indah dibibirnya mengambang ketika melihat aku. Tapi aku merasa ada yang berbeda dari senyuman itu. Bias wajahnya tidak seperti biasanya.
“Maaf abang terlambat Zulfa,” aku membalas senyumnya dengan hati sedikit berdebar.
“Tidak bang, aku memang sengaja datang lebih awal. Aku sudah di sini sejak dua jam yang lalu. Aku sambil menyelesaikan deadline novel keduaku.”
Ia memang selalu ke kafe ini ketika ia merasa jenuh, sedih, atau ketika tangan dan pikirannya tidak mampu mengayuh bersama-sama untuk menciptakan rangkaian kata-kata pada tulisannya. Kafe dengan interior feel homy ini dihiasi berbagai aksesoris seperti karung kopi, sofa bergaya retro, lantai berwarna natural, dan dinding batu bata merah yang disusun mengikuti pola anyaman dibiarkan tampil polos tanpa balutan semen ini membuat otak terasa bisa berpikir dengan jernih, katanya.
“Keliatannya kamu sangat sibuk. Apa abang mengganggumu Zulfa?” ucapku dengan nada khawatir. Sebenarnya aku sudah tidak sabar ingin melemparinya dengan beribu pertanyaan yang selama ini membakar diriku. Tapi semua itu kutahan. Aku tidak ingin merusak suasana.
“Tidak bang, abang tidak pernah menggangguku,” nadanya terdengar getir. Ia menggenggam erat tanganku. Aku melihat ada awan kelabu di sorot matanya.
“Abang pesan minum dulu yaa,” aku berusaha mencairkan suasana, sekaligus menepis perasaan tidak karuan yang mulai menyelinap diam-diam.
Wamena Coffe,” ucapku setelah mengangkat tangan, mengisyaratkan agar pelayan kafe membawa daftar menu untukku. Ia tersenyum mendengar pesananku. Senyum itu, senyum yang selalu kurindukan. Rindu yang tak berkesudahan.
“Kenapa kamu tersenyum? Bukankah kopi itu yang sering kamu pesan. Kopi organik dari Papua yang tumbuh secara alami, tanpa bahan kimia dengan rasa ringan dan lembut, aroma tajam yang nikmat serta tekstur yang nyaris tanpa ampas,” aku menirukan gayanya yang centil saat berbicara. “Itu kan yang sering kamu bilang?” aku terkekeh.
Ia tersenyum. Senyum yang terlihat dipaksakan. Ku pandangi wajah arabiannya. Bola matanya yang indah, hidung mancung, alis tebal, dan bibir tipis yang dipoles dengan lipstick merah muda senada dengan kulitnya yang putih membuat aku tak hentinya memuja setiap pahatan wajahnya.
“Bang Damar,” sahutnya pada beberapa jeda. “Aku dijodohkan,” ucapnya dengan nada lirih. Bulir-bulir hangat mulai menggenangi sudut matanya.
Aku terbujur kaku dengan tatapan mata kosong, aliran darah ku seakan berhenti, aku seakan kehilangan oksigen untuk bernafas. Perjodohan? Sesuatu yang klise dalam kacamata ku. Aku hanya terdiam beberapa saat. Berharap semua ini hanya mimpi. Tak bisa kupercaya setelah 2 bulan kebersamaan yang kami lalui, secepat itukah ia akan pergi?

Zulfa
            Hari itu aku menguatkan hatiku. Aku mengatakan keadaanku yang sungguh tidak bisa melawan kehendak orang tuaku untuk menjodohkanku dengan lelaki pilihan mereka. Sebenarnya aku tidak kuasa mengatakan itu padanya. Tapi ia harus tau, bahwa aku meninggalkannya bukan karena aku tidak cinta lagi, atau karena aku bosan dengannya. Tapi karena takdir yang memaksa hingga tangan-tangan perpisahan membuat kami tidak lagi berjalan searah.
            Sebagai seorang anak tunggal, aku sangat menyayangi orang tuaku. Aku tidak ingin mengecewakan mereka, karena hanya akulah harapan mereka. Aku berusaha yakin lelaki yang dipilihkan orang tuaku adalah yang terbaik. Ketika takdir sudah memilih, itulah jalan yang harus kita lalui. Aku mengerti mengapa Tuhan menghadirkan Damar dihidupku. Meskipun hanya sebentar, meskipun ia hanya singgah di hidupku, tapi ia memberikan banyak pelajaran hidup untukku. Ia mengajarkanku arti cinta yang sesungguhnya.

Damar
Senja perlahan luruh. Sinar keemasan menimpa langit yang menepi ke tepi barat. Aku duduk di samping jendela kaca di sudut kafe sambil memandangi secangkir kopiku yang masih mengepul uapnya. Ku resapi aroma kopi Wamena yang begitu khas ini. Aku tersenyum melihat benda manis yang tergeletak di samping cangkirku. Gulali yang aku beli pada pak tua siang tadi.
Ketika makan gulali kita seakan kembali ke masa kecil, masa dimana tidak ada satu masalah pun yang membebani pikiran kita. Kopi dan gulali adalah pasangan yang sangat serasi. Manisnya gulali menetralkan pahitnya kopi. Seperti itulah hidup, kebahagiaan dan kesedihan datangnya satu paket. Itulah kalimat-kalimat yang selalu dia ucapkan yang sampai detik ini selalu terngiang di telingaku.
Satu tahun telah berlalu. Kini ia hidup bahagia dengan lelaki pilihan orang tuanya. Hanya aku yang tertinggal di sini, masih di sini dengan perasaan yang sama dan untuk orang yang sama.

Di antara senja yang perlahan luruh
Ada rindu yang menyelinap di sana
Ada doa yang memeluk dari kejauhan
Ada cinta yang tak mampu diungkapkan

0 komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman