Cerpen “Kopi dan Gulali” karya Nazwa
Mufidah ini merupakan cerpen yang bertemakan percintaan. Cerpen ini
menceritakan bagaimana kisah percintaan sepasang kekasih yang terpisahkan
karena keadaan. Kalimat-kalimat dalam cerpen ini dikontruksi secara sederhana
dengan sesekali diselipi majas atau diksi. Kesederhanaan kalimat-kalimat pada
cerpen ini membuat cerita seakan mengalir karena bahasanya mudah dipahami.
Tema yang diangkat pada cerpen ini
memang sudah biasa, tentang sepasang kekasih yang dipisahkan. Tapi ada yang
menarik pada cerpen ini, yaitu penulis mengontruksi tokohnya dengan kebiasaan
yang unik, minum kopi sambil makan gulali. Menurutnya ada filosofi tersendiri
antara kopi dan gulali. Kebiasaan tersebut akhirnya terus diingat oleh sang
mantan kekasih pada cerpen ini.
Ada
empat poin dalam cerpen ini, yaitu cinta, perpisahan, rindu, dan kenangan. Pada
akhirnya semua bermuara pada kerinduan seorang lelaki yang terjebak akan
nostalgia di masa lalunya hingga ia tidak dapat melupakan sosok wanita yang
dulu pernah sangat dicintainya. Kombinasi antara tokoh Zulfa seorang wanita
cantik berwajah Arabian dan tokoh Damar lelaki melankolis yang terjebak dalam
kenangan membuat cerita ini semakin unik.
Cerpen
ini menyajikan nilai yang amat menyentuh, terutama terletak pada endingnya yang ternyata setelah satu
tahun berlalu, Damar masih tidak bisa berpindah ke lain hati. Ia masih ingat
setiap inchi kenangan-kenangannya bersama Zulfa. Hal itu membuktikan betapa
besarnya cinta Damar pada Zulfa.
Namun,
saya rasa kekurangan cerpen ini yaitu penulis terlalu terfokus pada inti
masalah atau klimaks pada cerpen ini, sehingga penulis melupakan bagian-bagian
yang mungkin dapat menambah nilai plus dari cerpen ini. Kosakata pada cerpen
ini juga terlalu banyak kalimat-kalimat melankolis. Bagi pembaca yang tidak
begitu menyukai kata-kata melankolis, mungkin akan jenuh sebelum ceritanya
menuju klimaks.


0 komentar:
Posting Komentar